Mini-Project

Our darmasiswa class at UNY handed in our papers today. We’ve finished our classes already; we had classes from September until the beginning of December. I wrote my final “exam” for the class last week; it was fine. For the mid-term test, I got 92%, and I was 2nd in my class. The tutors made a big deal out of it, but it was just fine whatever my mark was, because the point is to improve my communication skillz. Now, in addition to my nunchuck skillz, I can understand and give directions in bahasa indonesia. I can also tell you all the colours, and I know all the body parts. After spending one week of classes on “recreation”, I can talk at length about my hobihobi – running, swimming, climbing mountains, playing gamelan. So when they asked us to write a 5-page paper in Indonesian as our final “mini-project”, I was a bit skeptical, because I wasn’t sure about my vocabulary beyond the usual shapes, colours, directions, no I’m not already married, dari Kanada, yes, I’m 27 years and still not married, belum menikah. Plus, we never wrote anything in class! It was all dialog, games, talking, role-play, but not really writing on our own.

But I actually managed to write those 5 pages (totally double-spaced), and it wasn’t so bad! Maybe I’m getting somewhere…. I wrote about what is linguistics, and then gave a simple example of what I’m working on (syntax and semantics of TAM markers in Javanese). Hopefully that part made sense.  And the last part is why studying languages is important, besides the obvious pertinence of theoretical linguistics, of course. Here I talked about language preservation in bahasa indonesia. HEBAT!

I’m sure there are many mistakes; yakin masih ada salah. Tetapi semoga anda bisa mengerti. Enjoy!

Selain lingustik theoretik, penelitian linguistik itu penting untuk pemeliharaan bahasa-bahasa. Di negara Indonesia, pemeliharaan itu penting sekali. Karena bahasa indonesia itu bahasa politik dan perusuahaan, hampir semua orang indonesia berbicara bahasa indonesia. Tetapi, orang indonesia sekarang pikir bahasa indonesia (dan mungkin bahasa inggris juga) itu lebih penting daripada bahasa desa. Jadi, banyak bahasa desa mati. Itu sangat buruk karena banyak alasan. Saya cerito beberapa alasan:

  1. bahasamu budayamu. Waktu anda tidak punya bahasamu lagi, anda kehilangan bagian budayamu juga. Anda sekarang bisa memihak kepada siapa?
  2. Waktu bahasa mati, ada banyak sekali informasi kehilangan untuk linguistik, kamus, grammar, ilmu lokal, cerito lokal, dll. Begitu: linguistik informasi penting untuk mengerti tentang karakteristik tentang otaknya orang. Atau lagi: ilmu lokal, seperti namanya pohon atau binatang boleh bantu ilmu untuk obat. Kalau bahasa mati, informasi kehilangan untuk selama-lamanya!
  3. komunikasi kehilangan kepada generasi. Kadang-kadang, anak kecil tidak bisa berbicara dengan wong tuwa (nek-nek dan kakek) lagi. Itu sedih!

Kenapa orang indonesia mau kehilangan itu? Lagi banyak orang tuwa tidak mengajar anak-anaknya bahasa desanya. Kadang-kadang orang tuwa mau anaknya mengajar bahasa indonesia aja karena ada bahasa indonesia di sekolah. Terus, mereka mau menyiapkan anake untuk sekolah. Tetapi, mereka lupa anak-anak pinter sekali untuk mengajar bahasa-bahasa. Waktu anak, otaknya anak berbeta daripada otaknya orang tuwa. Mengajar bahasa itu gampang dan cepat untuk anak. Saya pikir lebih bagus mengajar bahasa desa kepada anak kecil daripada bahasa indonesia, karena mereka akan mengajar bahasa indonesia di sekolah bagaimanapun juga.

Di dunia, saya sudah bicara ada lebih 6000 bahasa. Tetapi, kira-kira 3000 bahasa sudah hampir mati. Kami harus berbicara bahasa desa. Itu kenapa saya mau meneliti di bahasa jawa (selain linguistik theoretik). Saya mau cerito semuanya orang berbicara bahasa desa. Di negara Indonesia, banyak orang berbicara bahasa jawa; kira-kira 90 juta orang. Tetapi, bahasa jawa standard itu meneliti. Ada banyak dialek di bahasa jawa tidak dipeliti. Saya mau meneliti bahasa jawa yang desa, sebelumnya bahasa jawa desa mati….Atau, kami bisa merubah rencana, dan lebih berbicara bahasa desa. Ayo!


Advertisements

One comment on “Mini-Project

  1. Kathleen says:

    How would you be able to eat a meal with meat right after that?
    That’s interesting in how their culture is so much different from ours.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s